Tampilkan postingan dengan label Malioboro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malioboro. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 November 2021

Terikat di Kota Pelajar

 Siapa sih yang pernah pergi ke Yogyakarta? Saya sendiri sudah berapa kali mengunjungi Kota Pelajar ini. Sebuah kota yang mampu membuat semua orang ingin berlama-lama menikmati suasana angin yang berbeda. Kota dengan kearifan lokal di tengah zaman yang sudah serba modern. Berada di Kota Pelajar ini, anda akan mendapatkan pengalaman yang jauh berbeda dari kota yang masih dipertahankan budaya Jawa sampai sekarang.

Banyak tempat wisata menarik yang dimiliki Kota Pelajar ini, salah satunya yang sangat terkenal dan pastinya, kalian sudah mengenalnya tentu saja Malioboro.

Asal nama Malioboro pun memiliki arti dalam dua versi. Pertama, nama ini diambil dari bahasa Sansekerta, yang berarti 'karangan bunga'. Hal ini dikarenakan dulu sepanjang jalan Malioboro dipenuhi oleh karangan bunga setiap kali keraton menggelar acara. Versi kedua diambil dari seorang bangsawan Inggris, Malborough, yang tinggal di Yogyakarta anatara tahun 1881-1816.

Malioboro juga menjadi semacam pusat oleh-oleh khas Yogyakarta. Sepanjang jalan Malioboro, Anda akan menemukan berbagai suvenir khas mulai dari kaos, batik, blangkan, sandal, kerajinan tangan dan pernak-pernik yang wajib Anda beli untuk oleh-oleh di rumah.

"Ini salah satu suvenir khas Yogyakarta yang mampu membuat mimpi indah, jika di gantung di depan pintu kamar" ucap salah satu pedagang suvenir.

Menurut salah satu pedagang suvenir, ada satu jenis suvenir yang mampu membuat mimpi kita jauh lebih indah, apabila kita memasang suvenir ini. Suvenir ini berbentuk gantungan yang sedikit besar dengan di kelilingi bulu yang lembut di bagian pinggirnya.

Selain kerajinan tangan yang bagus, harganya juga terjangkau untuk kalangan wisatawan. 


Untuk kuliner, di sepanjang Jalan Malioboro terdapat pedagang yang menawarkan sajian sederhana namun terasa nikmat. Salah satu kulinernya sate ayam di emperan jalan Malioboro. Di berbagai sudut pedestrian Malioboro, Anda akan berjumpa dengan ibu-ibu pedagang sate keliling. Biasa mangkal setiap sore hingga malam. 


Ada semacam kotak tempat ditaruhnya sate, bumbu kacang dan pelengkap lainnya. Di sebelahnya terdapat alat pembakar sate berukuran kecil dengan kepulan asap aroma sate yang sedap. Aneka macam sate ayam, ada sate ayam telur, sate rempelo ati, dan juga sate usus, dan tentunya harga yang relatif murah, satu porsi hanya Rp 15.000, berisi sate ayam tusuk dan lontong.

Menikmati sajian sate ayam ini sambil duduk di bangku taman di sepanjang pedestrian Malioboro dan menikmati udara segar di sepanjang jalan Malioboro.

Jangan lupa juga, kalau Anda sudah jauh-jauh dari luar kota untuk pergi ke Yogyakarta. Harus mencoba nasi gudeg yang menjadi kuliner wajib di Yogyakarta.

Di sepanjang jalan terdapat lokasi tukang becak dan juga delman yang setia mengantar perjalanan Anda. Inilah saatnya Anda berkeliling di sekitar Jalan Malioboro dengan moda transportasi khas Yogyakarta. Biasanya, tukang becak menawarkan paket keliling tempat wisata sekitar dengan biaya yang sangat terjangkau. 

Setiap hari Jalan Malioboro ini selalu di padati oleh wisatawan, khususnya hari sabtu dan minggu. 

"Setiap hari di sini selalu ramai, tapi lebih ramai lagi setiap hari sabtu dan minggu." kata satu pakusir.



Meskipun sedang diterapkan PPKM. Pemerintah tidak bisa menghentikan kerinduan para wisatawan untuk tidak mengunjungi Kota Pelajar ini. Akhirnya, Malioboro tetap di buka, dengan syarat protokol kesehatan lebih di perketat. 

Makanya, kalau Anda mengunjungi Malioboro saat keadaan Covid-19, Anda akan menemui banyak sekali pria berbaju merah dengan modelan prajurit, itu namanya Jogoboro. Petugas Jogoboro berjaga di jalur pedestrian Malioboro, Yogyakarta, Minggu (21/11). Mereka bertugas menjaga ketertiban dan menjaga kenyamanan pengunjung di Malioboro.